
Ilustrasi guru sedang mengajar siswa (Foto: funteacherprivate.com)
Penulis: Siti Nopilah
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UNIBA
Inovasi etika keguruan kembali muncul dari dunia pendidikan. Seorang guru bahasa Indonesia di salah satu SMP Negeri di Kabupaten Lebak menerapkan program “Kelas Tanpa Teguran”, sebuah metode pembelajaran berbasis penghargaan yang fokus pada etika komunikasi antara guru dan peserta didik.
Program ini berawal dari keprihatinan guru tersebut, Siti Maesaroh, atas meningkatnya kasus teguran keras yang sering terjadi di ruang kelas.
Menurutnya, interaksi pendidikan harus mengedepankan kehormatan dan saling menghargai. “Guru adalah teladan. Cara kita berbicara menjadi contoh langsung bagi karakter siswa. Kelas Tanpa Teguran dibangun untuk membiasakan komunikasi yang etis dan positif,” ujar siti dalam wawancara, Senin (9/12).
Dalam praktiknya, guru tidak lagi memberikan teguran keras saat siswa melakukan kesalahan.
Sebaliknya, guru memberikan umpan balik personal, diskusi reflektif, serta penilaian sikap yang berfokus pada kesadaran diri siswa. Hasil awal menunjukkan peningkatan kedisiplinan sebesar 26 persen dan penurunan konflik verbal di kelas.
Pengamatan pendidikan dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Rudiansyah, menilai langkah ini sebagai contoh penerapan etika profesi keguruan, khususnya pada prinsip menjaga martabat peserta didik. “Menghindari teguran yang merendahkan adalah inti dari etika pedagogis. Program ini bisa menjadi model nasional,” ujarnya. Pihak sekolah berencana memperluas program tersebut ke seluruh kelas mulai semester depan.
Selain mendapat respons positif dari kalangan pendidik, Program Kelas Tanpa Teguran juga mulai menarik perhatian para orang tua siswa. Beberapa di antara mereka menyatakan bahwa pendekatan tanpa bentakan membuat anak lebih nyaman dan berani berkomunikasi dengan guru. “Anak saya jadi lebih terbuka bercerita soal kegiatan di kelas. Dia bilang sekarang suasananya lebih tenang dan gurunya lebih sering memberikan contoh dibandingkan memarahinya,” ujar salah satu orang tua wali murid.
Pihak sekolah melalui wakil kepala bidang kesiswaan menjelaskan bahwa program ini tidak hanya menekankan pada penghapusan teguran kekerasan, tetapi juga menguatkan hubungan emosional antara guru dan peserta didik. Guru diberikan pelatihan singkat tentang komunikasi empatik, strategi membangun kedisiplinan positif, serta teknik penguatan karakter berbasis apresiasi. “Kami ingin menciptakan budaya belajar yang sehat. Disiplin tetap penting, tetapi cara menyampaikannya harus menghargai kemanusiaan siswa,” jelasnya.
Dukungan juga datang dari Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak yang menilai program tersebut sejalan dengan kampanye peningkatan kualitas interaksi guru-siswa. Pihak dinas mengatakan akan melakukan pemantauan sekaligus menjajaki kemungkinan penerapannya di sekolah lain jika hasilnya konsisten positif. “Inovasi seperti ini perlu diapresiasikan. Guru adalah teladan, bukan sekedar pengajar saja. Karena itu pendekatan humanis perlu terus dikembangkan,” ungkap perwakilan dinas.
Ke depan, sekolah berencana menambahkan komponen baru, seperti Hari Apresiasi Mingguan, di mana siswa yang menunjukkan perubahan perilaku positif akan diberikan penghargaan simbolis. Program ini diharapkan mampu menjaga semangat belajar sekaligus meminimalkan potensi konflik antar warga sekolah.
Dengan berbagai dukungan tersebut, Kelas Tanpa Teguran diproyeksikan menjadi salah satu inovasi etika keguruan yang mampu mengubah kultur pendidikan menuju lingkungan yang lebih ramah, beretika, dan berorientasi pada pembentukan karakter.**