SWARABANTEN - Kebakaran lahan di wilayah Lebak Selatan yang masuk dalam Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) Malingping terbilang cukup tinggi selama lima bulan terakhir.
Tercatat sebanyak 30 titik kebakaran terjadi di sejumlah wilayah, terutama di lahan perkebunan dan lahan kosong. Sebagian besar kebakaran diduga disebabkan oleh kelalaian manusia atau human error.
Petugas Pemadam Kebakaran WMK Malingping, Saepudin, kepada wartawan, Jumat (9/10/2026), mengatakan bahwa selama 5 bulan terakhir, kebakaran lahan mendominasi kejadian kebakaran di wilayah kerjanya, khususnya di area perkebunan dan lahan kosong.
“Dari yang sudah kami tangani sejak lima bulan lalu hingga saat ini, ada 32 titik kebakaran di wilayah Lebak Selatan yang ditangani WMK Malingping,” kata Saepudin.
Menurut Saepudin, dari total 30 titik kebakaran tersebut, sebanyak 8 titik terjadi di wilayah Kecamatan Malingping. Sementara itu, di Kecamatan Cijaku tercatat 5 titik kebakaran, Kecamatan Banjarsari 5 titik, Kecamatan Cihara 7 titik, Kecamatan Panggarangan satu 1 titik dan Kecamatan Wanasalam 6 titik.
Seluruh titik kebakaran tersebut berhasil ditangani petugas pemadam kebakaran.
Saepudin menjelaskan, penyebab kebakaran secara umum adalah kelalaian manusia, seperti membakar sampah sembarangan dan membuang puntung rokok yang masih menyala. Selain itu, terdapat pula kebakaran yang diduga sengaja dilakukan dan berpotensi merambat ke area lahan lainnya.
“Kebakaran ini secara umum disebabkan oleh kelalaian manusia atau human error, seperti membakar sampah sembarangan dan membuang puntung rokok. Ada juga yang dibakar dengan sengaja sehingga api dapat meluas ke lahan lainnya,” ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, terlebih dengan kondisi kecepatan angin yang cukup tinggi.
Masyarakat diminta tidak membakar sampah sembarangan serta tidak membuang puntung rokok yang masih menyala karena dapat memicu kebakaran dan menimbulkan kerugian.
“Saya kira ini harus menjadi perhatian serius karena angka kebakaran selama lima bulan terakhir sudah terbilang tinggi, meskipun sejauh ini tidak berdampak pada kawasan permukiman,” pungkasnya.**
