Notification

×

Iklan

Ponpes At-Tadzkir Nur Ghazali Fokus Cetak Santri Berdaya

Senin, 11 Mei 2026 | Mei 11, 2026 WIB Last Updated 2026-05-11T01:52:31Z


SWARABANTEN - 
Bagi sebagian masyarakat pondok pesantren identik dengan kehidupan santri sarungan yang mempelajari ilmu agama, dan berbagai kitab.


"Santri di zaman sekarang harus menguasai ilmu pengetahuan dan mampu memanfaatkan teknologi," kata Pimpinan pondok pesantren (Ponpes) At-Tadzkir Nur Ghazali, KH Agung Sulistyo Purnomo, Ahad 10 Mei 2025.


Menurutnya, santri itu dituntut mampu beradaptasi dengan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan. Kemajuan teknologi yang begitu pesat sejatinya memudahkan berbagai aktivitas kehidupan.


"Kuasai teknologinya, jadikan sebagai sarana penunjang produktivitas," tegas Gus Agung, sapaan akrabnya.


Berawal dari keinginan itu, pondok pesantren At-Tadzkir Nur Ghazali di Sepatan Kabupaten Tangerang, mengolaborasikan kurikulum pondoknya.


Ketersediaan tenaga pengajar yang profesional di bidangnya siap mencetak santriwan/ santriwati yang beriman, berilmu, dan berkarakter juga memiliki soft skill sebagai bekal hidup di masa mendatang. 


Dukungan tenaga pendidik yang ada bukan hanya ahli ilmu agama, juga para profesional yang bersertifikasi siap mendidik para santriwan santriwati.


"Kami berkomitmen mencetak santri dan santriwati berdaya," ungkap Gus Agung disambut gembira para orang tua dan wali santri yang hadir.


Peran orang tua dalam mendukung program pendidikan para santri terasa begitu sinergi. 


"Momen penjengukan santri merupakan wadah silaturahmi dan komunikasi antara pihak pondok dan para orang tua santri," ujar Ustadz Ibnu Alma'alih, pengasuh atau pendamping santri.


Meskipun, diungkapkan Ibnu, untuk penjengukan ditentukan waktunya namun jalinan komunikasi dapat dilakukan setiap saat.


Orang tua dapat memperoleh informasi yang diperlukan terkait anak-anaknya selama dalam pengasuhan pondok pesantren.


"Aturan dibuat untuk mendidik anak, komunikasi dibangun untuk menunjang program pendidikan," ujar ustadz yang setiap waktunya bersama para santri.


Pola asuh santri dilakukan sesuai dengan kehidupan psikologi anak terasa menyenangkan sehingga para santri dapat tumbuh berkembang dalam suasana penuh kehangatan, dan penuh sukacita  dalam aktivitas belajar setiap harinya. (Rudiyat)