Notification

×

Iklan

Program Tagana Masuk Sekolah 2026 Dikritik, Dinilai Minim Koordinasi dan Kurang Tepat Sasaran

Rabu, 28 Oktober 2026 | 10/28/2026 11:22:00 AM WIB Last Updated 2026-10-28T04:22:00Z


SWARABANTEN
- Pelaksanaan program Tagana Masuk Sekolah (TMS) tahun 2026 yang digelar Dinas Sosial Provinsi Banten menuai kritik dari Ketua Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Lebak, Iwan Hermansyah.


Program tersebut dinilai terkesan dipaksakan dan lebih berorientasi pada penyerapan anggaran ketimbang perencanaan yang matang.


Menurut Iwan, program tersebut idealnya direncanakan dengan baik serta melibatkan sinergi dan koordinasi dengan organisasi Tagana yang berada di wilayah Kabupaten Lebak.


“Padahal, sudah cukup jelas nama programnya Tagana Masuk Sekolah. Artinya, organisasi Tagana semestinya berada di garda terdepan dalam pelaksanaannya, bukan justru lembaga dinas yang mengambil alih pelaksanaan, kecuali nama kegiatannya diganti Dinsos masuk sekolah ” kata Iwan Hermansyah kepada SwaraBanten.com, Selasa (27/10/2026).


Iwan mengatakan, pihak dinas seharusnya berkomunikasi jauh-jauh hari dengan organisasi relawan kebencanaan di daerah untuk membahas sosialisasi peningkatan kapasitas kesiapsiagaan bencana berbasis sekolah. Koordinasi tersebut juga diperlukan dalam menentukan lokasi sekolah yang menjadi sasaran kegiatan.


“Saya menyayangkan kegiatan ini terkesan asal menentukan titik sekolah. Padahal, banyak sekolah yang berada di daerah rawan bencana dengan tingkat risiko jauh lebih tinggi dibandingkan sekolah-sekolah di wilayah perkotaan,” ujarnya.


Ia juga menyampaikan bahwa Tagana Kabupaten Lebak memiliki banyak anggota yang berkompeten dalam pelaksanaan program TMS. Bahkan, sejumlah anggota telah mengikuti sertifikasi dari Kementerian Sosial (Kemensos).


Menurut Iwan, berdasarkan informasi yang diterimanya dari pihak dinas, kegiatan TMS telah dimulai pada Senin, 26 Oktober 2026, dan dijadwalkan berakhir pada Rabu, 28 Oktober 2026. 


Adapun sekolah yang menjadi sasaran kegiatan tersebut adalah SMA dan SMK di wilayah Rangkasbitung.


Ia juga menyoroti keterlibatan anggota Tagana dari luar Kabupaten Lebak dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Padahal, menurutnya, Tagana Lebak memiliki organisasi dan anggota yang aktif serta siap berkontribusi.


“Kegiatan yang sudah berjalan ini juga melibatkan Tagana dari luar Lebak. Padahal, Tagana Lebak jelas ada dan eksis. Seandainya pihak dinas berkoordinasi dengan kami, mungkin lokasi kegiatannya tidak hanya diarahkan ke wilayah perkotaan, tetapi juga mencakup sebagian wilayah Lebak Selatan yang memiliki potensi ancaman gempa bumi dan tsunami,” pungkasnya.


Iwan berharap, ke depan, pelaksanaan program TMS dapat direncanakan secara lebih matang dengan melibatkan organisasi Tagana di daerah.


Dengan demikian, kegiatan tersebut tidak hanya terlaksana secara administratif, tetapi juga tepat sasaran dan mampu meningkatkan kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah, khususnya di wilayah yang memiliki risiko bencana tinggi.**