Gali Potensi Lokal, IKRA Ngopi Bareng Jaro Literasi

Posted by On Agustus 15, 2019

SwaraBanten.com - Lebak Peundeuy, sebuah desa di wilayah Kecamatan Cihara dengan potensi kearifan lokal dan sumber hayati yang cukup mumpuni. Namun, memaksimalkan potensi tersebut butuh sebuah pemantik, untuk membangkitkan keberdayaan masyarakat lokal.

Dasar itu pula, dengan mengambil tema menggali potensi lokal berbasis budaya dan lingkungan, Ikatan Remaja Aktif (IKRA) Lebak Pari menggelar kegiatan ngobrol penuh inspirasi (Ngopi) bareng Jaro Ruhandi, Kamis, (15/8/2019)

Kegiatan ini berlangsung di lingkungan Kampung Lebak Pari III, Desa Lebak Peundeuy, Kecamatan Cihara, Lebak - Banten dengan penuh khidmat dan antusias dari kalangan pemuda, pelajar, mahasiswa serta masyarakat sekitar.

Diketahui, saat ini Ruhandi sedang menjabat Kepala Desa Warung Banten, Kecamatan Cibeber. Selain kepala desa, ia juga sebagai pegiat literasi di Kabupaten Lebak, yang memiliki selusin prestasi dan segudang pengalamannya dalam pemberdayaan masyarakat pedesaan.

Tak hanya Jaro Ruhandi, IKRA Lebak Pari juga mneghadirkan Ade Suryana sebagai pemerhati kearifan lokal di Kecamatan Cihara sekaligus Pendamping Desa (PD).

Ketua IKRA Lebak Pari, Dede Ilyana mengatakan, ngobrol penuh inspirasi (Ngopi) ini dikemas lagi dalam tema besar yaitu 'Sekolah Umum' yang digagas oleh pemuda yang tergabung di dalam komunitas Ikatan Remaja Aktif. 

Menurutnya, Sekolah Umum adalah salah satu media untuk memberikan penyadaran dan pemahaman untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi ihwal pertanian dan perkebunan dalam mendorong peningkatan ekonomi masyarakat menuju kesejahteraan bersama.

"Kami sadar, bahwa potensi yang ada di sini (Lebak pari) banyak sekalia. Namun sayangnya belum teroptimalkan. Sehingga masyarakat belum merasakan manfaatnya. Makanya kami adakan Sekolah Umum dalam momen hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan RI yang ke-74," kata Dede dalam sambutannya.

Sementara itu, Jaro Ruhandi memberikan pandangan, ketika pemuda sudah memiliki kesadaran atau peduli terhadap kampung halamannya maka tidak akan kehilangan jati diri sebagai anak bangsa.

"Yang bisa mengelola kampungnya itu yang dinamakan pemuda keren. Keren bukan berarti bawa mobil gagahan dari sekolah yang tinggi jika di kampungnya belum bisa menerapkan ilmunya," cetusnya. (MA)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »