![]() |
| Ilustrasi Budidaya Maggot. (Foto: Tangkap Layar Instagram @maggot.jambi) |
SWARABANTEN - Pemerintah Kabupaten Serang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) berkomitmen akan mengoptimalkan penanganan sampah di Pasar Anyer melalui budidaya maggot.
Berdasarkan informasi, maggot adalah larva dari serangga Black Soldier Fly (BSF) yang dikenal solusi efektif dalam mengurai sampah organik. Lalu pertanyaannya, siapa yang akan diuntungkan?
Kepala DLH Kabupaten Serang, Sarudin mengatakan, untuk pengelolaan sampah-sampah organik bisa dikelola dengan konsep pemberdayaan maggot.
Menurutnya, persoalan sampah tidak hanya bagaimana menyelesaikan persampahan, tapi bagaimana merubah mindset dan edukasi masyarakat.
"Beberapa daerah sudah berhasil (dalam budidaya maggot, red)," ujar Saudin melalui keterangan tertulisnya kepada Swarabanten.com, Kamis, 4 Desember 2025.
Sarudin mencontohkan, seperti di Ciamis telah berhasil melakukan pengelolaan sampah, dimulai dari sampah rumah tangga dengan memilah bisa selesai sampai tingkat desa.
"Itu mudah-mudahan bisa terwujud di Kabupaten Serang," ucapnya.
Sarudin mengaku saat ini pihaknya tengah membangun konsep pengelolaan sampah di desa. Apakah dengan mesin excavator atau dengan metode maggot ini, maka perlu pembuktian konsep yang sudah jelas.
"Jika konsep itu sudah jelas, kita bisa menghitung berapa kebutuhan anggarannya, berapa kebutuhan lahannya, dan kebutuhan lain-lainnya," ucapnya.
Sehingga nanti dari penganggaran, lanjut Sarudin, selain dari pemerintah pusat, pemerintah daerah di-support juga dari anggaran desa. Hal ini perlu dipelajari terlebih dahulu, meski di beberapa desa sudah berjalan seperti di Bojonegara 4 desa yang sudah berjalan, bagaimana sampah selesai di tingkat desa dengan menggunakan mesin excavator.
"Tapi di Bojonegara itu ada banyak perusahaan, artinya banyak bantuan CSR dari perusahaan, kita sedang memikirkan bagaimana desa-desa yang tidak punya dukungan dari perusahaan, itu sedang kita coba konsep itu," ungkapnya.
Sarudin berharap, wilayah Anyer bisa berjalan dengan mendorong bagaimana nanti masing-masing rumah tangga membudidayakan magot. Namun untuk di awal, butuh dukungan dari pemerintah daerah seperti pengadaan baknya yang nanti akan dilakukan sosialisasi dan edukasinya.
"Kita coba salah satu desa percontohan, di mana rumah-rumah itu kita dorong untuk membudidayakan magot, nanti magot yang sudah siap panen itu kita beli dijadikan sebagai bank sampah magot," jelasnya.
Pemkab Serang Terima Bantuan Penanganan Sampah Budidaya Magot dari Patra Anyer Hotel
![]() |
| Pemkab Serang saat menerima bantuan pengembangan pengelolaan budidaya maggot dari Patra Anyer Hotel. (Foto: istimewa) |
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), menerima bantuan pengembangan pengolahan budidaya magot dari Patra Anyer Hotel.
Secara simbolis, bantuan diserahkan oleh General Manager (GM) Patra Anyer Hotel, Pungky Diospurnama kepada Founder Bank Sampah Paguyuban Pemuda Literasi Global (PPLG), Masrur Alawi.
Penyerahan bantuan di Aula Patra Anyer Hotel merupakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT. Patra Jasa.
General Manager (GM) Patra Anyer Hotel, Pungky Diospurnama mengatakan, TJSL PT Patra Jasa Pengelolaan Sampah Organik Berbasis Pemberdayaan dan Edukasi merupakan salah satu programnya untuk menjaga kelestarian lingkungan.
"Pengelolaan ini kita sudah programkan setahun sebelumnya, karena memang saat ini pengelolaan sampah perlu kita upayakan yang lebih lanjut, misal dengan bank sampah terkait, yang mana itu bisa memproduksi seperti magot dan lain sebagainya," ujarnya.
Adapun untuk pengelolaannya, kata Pungky, pihaknya menyerahkan kepada pihak bank sampah yang ada di Kecamatan Anyer. "Kami hanya support terkait dengan apa yang kita perlukan yang ada di TPST Anyer. Kami menyuport dari segi dananya," katanya.
Budidaya Maggot untuk Mengatasi Pencemaran Lingkungan
Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Prof. Nurul Isnaini berpendapat, bahwa budidaya maggot memiliki keuntungan dari berbagai segi. Seperti pemanfaatan limbah sludge sebagai media budidaya, BSF mengandung nutrisi yang baik untuk sapi, serta media bekas budidaya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk sayuran maupun tanaman pakan.
"Tahapan budidaya larva ini dimulai dari menetaskan telur, memindahkan larva ke media pembesaran yang berupa limbah organik. Lalu pada tahap akhir adalah pemanenan maggot," ungkapnya dikutip Swarabanten.com dari laman fapet.ub.ac.id.
Sementara itu, dari segi nutrisi BSF memiliki kandungan protein dan lemak yang tinggi maka dapat digunakan untuk substitusi konsentrat sapi perah. Langkah pembuatannya adalah setelah proses pemanenan dikeringkan dan digiling hingga menjadi bentuk tepung.
"Tepung maggot dapat digunakan sebagai pengganti sebagian konsentrat untuk sapi perah," imbuh Prof. Nurul. (Ocid)

