Penulis: Yuyun Yunengsih
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UNIBA
Guru Honorer di Tengah Ambisi Indonesia Emas 2045 Di saat pemerintah gencar menggaungkan visi "Indonesia Emas 2045", sebuah pemandangan kontras masih terjadi di ruang-ruang kelas kita.
Ribuan guru honorer tetap setia mengabdi, meski upah yang mereka terima seringkali lebih rendah dari biaya servis kendaraan bulanan mereka.
Pengabdian yang "Dibayar" sabar bagi banyak guru honorer, profesi ini telah bertransformasi menjadi sebuah ujian kesabaran yang ekstrim.
Tanpa tunjangan kesehatan yang memadai dan status kerja yang belum pasti, mereka tetap memikul tanggung jawab yang sama beratnya dengan guru berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN).
Kami tidak menjadi kaya, kami hanya ingin hidup layar berfokus mengajar tanpa harus berpikir nanti malam makan apa atau bagaimana membayar kontrakan karena ini panggilan hati, kita sang guru mempunyai hati yang tulus untuk melihat masa depan anak bangsa.
Ketulusan kami tidak bisa dihargai oleh uang apapun, masa depan anak bangsa ditangan kami.***
