Oleh:Tim Penulis Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNIBA
Monumen Geger Cilegon menjadi salah satu ikon pelestarian sejarah yang berfungsi sebagai sarana edukasi bagi generasi muda.
Perubahan wajah kota kerap menjadi simbol awal arah pembangunan yang sedang ditempuh Pemerintah Kota Cilegon dalam beberapa waktu terakhir. Salah satu wujud awal dari arah pembangunan tersebut adalah hadirnya Monumen Geger Cilegon.
Monumen ini tidak hanya berfungsi sebagai penanda sejarah, tetapi juga sarana edukasi bagi generasi muda untuk saat ini.
Memasuki tahun 2026, kepemimpinan Wali Kota Robinsar membawa pandangan baru yang yang memudahkan para warga dan penduduk sekitar untuk segala aktivitas dan transportasi.
Pembangunan tidak lagi dipandang sebagai proyek fisik yang berdiri sendiri, melainkan sebagai rencana yang rapih dan sedang bertahap untuk menghubungkan pusat- pusat pertumbuhan ekonomi dengan wilayah pemukiman masyarakat secara lebih efisien.
Salah satu langkah wujud nyata yang sedang gencar dilakukan adalah penataan area monumen ikon daerah cilegon ini dan revitalisasi trotoar di sepanjang akses utama masuk kota, seperti kawasan Cilegon Timur.
Penataan ini mencakup perluasan jalur trotoar [pinggir jalan] yang ramah pejalan kaki, penambahan lampu penerangan jalan untuk keamanan, hingga merapihkan penataan kabel dari udara ke bawah tanah demi mewujudkan estetika kota yang lebih rapi. Revitalisasi wajah kota ini bukan sekadar urusan keindahan, melainkan pintu gerbang untuk menarik investasi dan memperkuat citra Cilegon sebagai kota industri yang modern.
Di luar pusat kota, arah pembangunan Robinsar difokuskan pada penyelesaian proyek- proyek strategis yang mendukung mobilitas warga, seperti kelanjutan pembangunan jalan lingkar yang bertujuan mengurai kemacetan serta membuka akses ekonomi baru bagi masyarakat di wilayah pinggiran.
Selain infrastruktur jalan, pemerintah juga berkomitmen penuh dalam memenuhi kebutuhan dasar publik, salah satunya melalui target pemerataan akses air bersih bagi seluruh wilayah Cilegon pada tahun 2027. Penciptaan 5.000 wirausaha baru, modernisasi BLK, program kuliah gratis untuk warga kurang mampu, pembangunan infrastruktur (Jalan Lingkar Utara, Pelabuhan Warnasari), penuntasan kawasan kumuh, pusat kreativitas anak muda, serta peningkatan kesejahteraan buruh dan perlindungan pekerja.
Masyarakat berharap kepemimpinannya membawa perubahan positif dan mewujudkan janji-janji kampanye untuk Cilegon yang lebih sejahtera dan nyaman.
Keberhasilan Robinsar nantinya akan sangat ditentukan oleh konsistensi kebijakan dan keberanian dalam mengambil keputusan strategis.
Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas pemuda, dan masyarakat akar rumput menjadi kunci agar setiap program tidak berhenti sebatas wacana. Dengan tata kelola yang transparan dan partisipatif, harapan publik terhadap perubahan nyata dapat perlahan diwujudkan.
Pada akhirnya, kepemimpinan Robinsar akan diuji bukan hanya melalui janji yang disampaikan, tetapi melalui dampak yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Apabila program-program tersebut dapat direalisasikan secara tepat sasaran, maka slogan kesejahteraan dan kenyamanan bukan sekadar narasi politik, melainkan realitas sosial yang tumbuh bersama kepercayaan publik.
Memasuki satu tahun masa jabatan, dan arah pembangunan di bawah kepemimpinan Robinsar mulai menunjukkan peta jalan yang lebih konkret. Kehadiran infrastruktur ikonik seperti Monumen Geger Cilegon bukan sekadar proyek estetika, melainkan upaya penguatan narasi politik untuk menyatukan dukungan publik melalui simbol identitas.
Namun, melampaui simbolisme tersebut, publik kini mulai menagih sinkronisasi antara kemegahan fisik dengan penyelesaian persoalan mendasar kota, seperti tata kelola banjir dan ketersediaan lapangan kerja bagi warga lokal.
Secara politik, stabilitas di tahun pertama ini memang terlihat terjaga melalui konsolidasi dengan berbagai elemen stakeholder. Namun, tantangan terbesar bagi Robinsar ke depan adalah membuktikan bahwa pembangunan infrastruktur ini bukan sekadar strategi pencitraan jangka pendek menuju kontestasi berikutnya.
Kritik mulai muncul dari sejumlah kalangan yang menilai bahwa alokasi sumber daya seharusnya lebih diseimbangkan antara pembangunan pusat kota dengan pembenahan infrastruktur di wilayah pinggiran.
Keberhasilan kepemimpinan satu tahun ini pada akhirnya akan diuji oleh sejauh mana pembangunan fisik mampu beresonansi dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat secara merata, bukan hanya pada titik-titik yang kasat mata secara visual.
Kinerja optimal sebagaimana dikemukakan oleh Robbins dan Coulter tidak hanya menekankan pada pencapaian target secara kuantitatif, tetapi juga pada efektivitas proses manajerial yang mencakup perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian.
Dalam konteks pembangunan Kota Cilegon, penerapan prinsip-prinsip tersebut menjadi sangat relevan mengingat karakter Cilegon sebagai kota industri strategis di Indonesia.
Secara historis, Cilegon dikenal sebagai pusat industri berat nasional sejak berdirinya PT Krakatau Steel pada tahun 1970-an. Kehadiran industri baja ini menjadi penanda awal transformasi Cilegon dari wilayah agraris menjadi kota industri. Seiring waktu, Cilegon berkembang menjadi kawasan industri terpadu dengan hadirnya industri petrokimia, energi, manufaktur, dan logistik yang memiliki peran penting dalam rantai pasok nasional maupun global.
Potensi industri Cilegon yang besar menuntut adanya kinerja aparatur pemerintah dan pelaku industri yang optimal. Prinsip manajemen Robbins khususnya pada aspek kepemimpinan yang adaptif dan pengambilan keputusan berbasis data—dapat menjadi fondasi untuk meningkatkan daya saing daerah.
Pemerintah daerah dituntut mampu menyelaraskan visi pembangunan dengan kebutuhan industri, tenaga kerja lokal, serta tuntutan keberlanjutan lingkungan.
Selain itu, pengelolaan sumber daya manusia yang efektif menjadi kunci. Kota Cilegon memiliki bonus demografi dan tenaga kerja produktif yang besar. Dengan penerapan manajemen kinerja yang jelas, sistem evaluasi yang objektif, serta komunikasi organisasi yang terbuka, potensi tersebut dapat dioptimalkan untuk mendukung pembangunan ekonomi yang terbuka dan berkelanjutan.
Dengan demikian, kinerja optimal menurut perspektif Robbins dan memberikan kerangka konseptual yang kuat dalam mendukung pembangunan Kota Cilegon. Sejarah panjang Cilegon sebagai kota industri menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan modal dan infrastruktur, tetapi juga oleh kualitas manajemen dan kepemimpinan.
Melalui penerapan fungsi-fungsi manajemen yang efektif, komunikasi organisasi yang sinergis, serta pemanfaatan potensi industri secara strategis, Cilegon memiliki peluang besar untuk terus berkembang sebagai pusat industri unggulan nasional. Ke depan, integrasi antara kinerja manajerial yang optimal dan warisan sejarah industri yang kuat diharapkan mampu mendorong Cilegon menuju pembangunan yang berdaya saing, berkelanjutan, dan menyejahterakan masyarakatnya.
Kehadiran Monumen Geger Cilegon yang kini berdiri megah di pusat kota menjadi pengingat bahwa kemajuan fisik yang sedang dikejar harus tetap bersumber pada nilai-nilai perjuangan dan identitas lokal. Gotong royong antara pembangunan infrastruktur yang terhubung dan penguatan karakter daerah inilah yang menjadi fondasi utama arah pembangunan Cilegon di masa depan.
Jika terealisasi secara konsisten, arah pembangunan ini berpotensi menjadikan Cilegon sebagai kota industri yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga adil, nyaman, dan sejahtera bagi seluruh warganya.
pembangunan infrastruktur ini diharapkan mampu memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan. Pada akhirnya, infrastruktur Robinsar menjadi langkah strategis menuju daerah yang lebih maju, nyaman, dan sejahtera bagi seluruh lapisan masyarakat.
Tim Penulis:
Maulidatul Auliya
Nabila Novi Aulia
Risma Aprilyani
Yolanda Elvrida
(1B Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik UNIBA)*
