Notification

×

Iklan

Dampak Kemarau Panjang: Areal Persawahan di Malingping Mengering, Petani Belum Bisa Tanam Padi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 10/09/2026 07:36:00 AM WIB Last Updated 2026-10-09T00:53:10Z


SWARABANTEN
- Kemarau panjang yang melanda wilayah Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, berdampak luas terhadap musim tanam padi pertama.


Musim tanam yang semestinya dimulai pada awal Oktober hingga kini belum dapat dilakukan karena lahan persawahan mengalami kekeringan akibat minimnya curah hujan.


Kondisi tersebut membuat sejumlah petani terpaksa menunda penanaman padi. Bahkan, sebagian petani berupaya menanam tanaman palawija seperti cabai dan mentimun untuk memenuhi kebutuhan hidup, meski hasilnya belum maksimal akibat keterbatasan air.


“Sudah lima bulan kemarau ini menimpa kami. Untuk menyambung hidup, kami berusaha menanam palawija seperti cabai dan mentimun. Namun, tetap mengalami kerugian karena hasilnya tidak maksimal akibat tidak tersiram air,” kata Udin, seorang petani di Desa Cilangkahan.


Menurut Udin, biasanya pada September para petani sudah mulai melakukan pengolahan lahan, kemudian memasuki musim tanam pertama pada awal Oktober.


Namun, sejak Agustus, kondisi lahan persawahan di wilayah tersebut mulai mengalami kekeringan.


“Biasanya awal Oktober sudah masuk musim tanam pertama, sedangkan September sudah mulai pengolahan tanah. Tetapi sejak Agustus lahan persawahan mengalami kekeringan. Sejumlah saluran irigasi juga mengering dan tidak ada air,” ujarnya.


Akibat kondisi tersebut, lanjut Udin, para petani di Kecamatan Malingping hingga kini belum dapat menanami lahan persawahan mereka.


Kondisi serupa juga dialami petani di Desa Sukamanah. Saban, salah seorang petani, mengatakan dirinya hingga saat ini belum dapat melakukan penanaman padi karena sawahnya mengalami kekeringan cukup lama.


“Sawah kami berada di areal Sukamanah yang berdekatan dengan irigasi Cibinuangeun dan Cilangkahan 1. Namun, kondisi irigasinya juga tidak ada air,” kata Saban.


Ia mengatakan, kemarau panjang tersebut juga berdampak terhadap harga gabah dan beras di pasaran. Menurutnya, harga gabah kering giling saat ini dapat mencapai sekitar Rp930 ribu per kuintal, sementara beras dengan kualitas terbaik mencapai Rp14.400 per kilogram.


“Untuk saat ini, yang bisa kami lakukan untuk menyambung hidup adalah tetap beraktivitas dengan menanami palawija, meskipun hasilnya juga tidak maksimal,” ujarnya.


Para petani berharap kondisi cuaca segera membaik dan hujan kembali turun sehingga lahan persawahan dapat kembali teraliri air dan musim tanam padi pertama bisa segera dimulai.***