Notification

×

Iklan

Dinkes Kota Serang Gencarkan Aksi Cegah Stunting Lewat Pendekatan ABCDE

Jumat, 20 Juni 2025 | Juni 20, 2025 WIB Last Updated 2025-06-20T03:37:55Z


SWARABANTEN – Pemerintah Kota Serang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) terus menggencarkan berbagai upaya konkret dalam mencegah dan menangani stunting. Kepala Dinkes Kota Serang, Ahmad Hasanuddin, menegaskan stunting bukan sekadar soal tinggi badan anak yang tidak ideal, melainkan cerminan dari kurang gizi kronis yang berakibat jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak.


“Stunting bisa terjadi sejak bayi masih dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Ini sangat mempengaruhi perkembangan fisik, daya tahan tubuh, hingga kecerdasan anak di masa depan,” ungkap Ahmad Hasanuddin, Kamis (19/6/2025) 

Ia menjelaskan stunting merupakan kondisi yang sangat kompleks. Penyebab utamanya adalah rendahnya asupan gizi dalam jangka waktu lama, buruknya keragaman pangan, kurangnya protein hewani, hingga pola asuh yang kurang tepat.


“Ibu hamil yang kekurangan nutrisi, infeksi selama kehamilan, kehamilan di usia remaja, hingga jarak kelahiran yang terlalu dekat juga menjadi faktor risiko. Selain itu, sanitasi buruk dan akses layanan kesehatan yang terbatas memperparah kondisi ini,” jelasnya.


Untuk mempermudah masyarakat dalam memahami langkah pencegahan, Dinkes Kota Serang memperkenalkan formula ABCDE sebagai panduan pencegahan stunting:

A – Aktif Minum Tablet Tambah Darah (TTD)

Remaja putri dianjurkan minum TTD seminggu sekali, sedangkan ibu hamil satu tablet setiap hari selama masa kehamilan.


B – Bumil Rutin Periksa Kehamilan

Pemeriksaan kehamilan minimal 6 kali, termasuk dua kali oleh dokter dengan USG.

C – Cukupi Protein Hewani

 Pastikan anak berusia di atas 6 bulan mengonsumsi protein hewani setiap hari.

D – Datang ke Posyandu Tiap Bulan

  Pantau pertumbuhan anak melalui penimbangan dan pengukuran rutin serta imunisasi.

E – Eksklusif ASI 6 Bulan

 


Berikan ASI saja selama enam bulan pertama, lalu lanjutkan dengan MP-ASI bergizi hingga usia 2 tahun.

Sebagai bentuk komitmen terhadap pencegahan dan penanganan stunting, Dinkes Kota Serang telah melakukan berbagai program strategis:


1. Skrining Anemia di kalangan remaja putri di sekolah-sekolah.


2. Kegiatan Aksi Bergizi untuk meningkatkan konsumsi TTD di kalangan remaja.


3. Skrining Kehamilan di posyandu, minimal enam kali selama masa kehamilan.


4. Suplementasi MMS untuk seluruh ibu hamil serta TTD gratis bagi yang mengalami anemia.


5. Pemberian PMT Lokal (Pemberian Makanan Tambahan) selama 120 hari untuk ibu hamil kekurangan gizi, dimulai Juli.


6. Pemantauan Rutin Pertumbuhan Balita di posyandu setiap bulan.


7. Penyediaan Konselor ASI di setiap puskesmas untuk mendukung keberhasilan menyusui.


8. PMT Khusus untuk Balita dengan masalah gizi seperti berat badan tidak naik, gizi kurang, dan lainnya.


9. Tatalaksana Gizi di RSUD Kota Serang untuk balita stunting dan gizi buruk, termasuk pemberian PKMK (Pangan Khusus Medis) di bawah pengawasan dokter spesialis anak.


Ahmad Hasanuddin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut serta dalam gerakan bersama cegah stunting.


“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Stunting adalah masalah lintas sektor. Ayo, para orang tua, ibu hamil, remaja putri, semua punya peran penting. Mulai dari konsumsi gizi yang baik, hidup bersih dan sehat, serta aktif memanfaatkan layanan di Posyandu,” ujarnya. 


Kadinkes Kota Serang Ahma Hasanuddin mengatakan Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting dapat terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016). Stunting dan kekurangan gizi lainnya yang terjadi pada 1.000 HPK tidak hanya menyebabkan hambatan pertumbuhan fisik dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit, tetapi juga mengancam perkembangan kognitif yang akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan saat ini dan produktivitas anak di masa dewasanya.


Stunting terkait dengan banyak penyebab, antara lain aktor asupan gizi ibu dan anak, status kesehatan balita, ketahanan pangan, lingkungan sosial dan kesehatan, lingkungan pemukiman, kemiskinan, dan lain-lain (UNICEF, 2013; WHO, 2013).


Kekurangan gizi dalam waktu lama itu terjadi sejak janin dalam kandungan sampai awal kehidupan anak (1000 Hari Pertama Kelahiran). Penyebabnya karena rendahnya asupan vitamin dan mineral, dan buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani. Faktor ibu dan pola asuh yang kurang baik terutama pada perilaku dan praktik pemberian makan kepada anak juga menjadi penyebab anak stunting apabila ibu tidak memberikan asupan gizi yang cukup baik. Ibu yang masa remajanya kurang nutrisi, bahkan di masa kehamilan, dan laktasi akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan tubuh dan otak anak.


Faktor lainnya yang menyebabkan stunting adalah terjadi infeksi pada ibu, kehamilan remaja, gangguan mental pada ibu, jarak kelahiran anak yang pendek, dan hipertensi. Selain itu, rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan termasuk akses sanitasi dan air bersih menjadi salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan anak.


Diagnosis


Diagnosis stunting pertama-tama dilakukan dengan melakukan tanya jawab oleh petugas kesehatan seputaran asupan makan anak, riwayat pemberian ASI, riwayat kehamilan dan persalinan, serta lingkungan tempat tinggal anak. Setelah itu akan dilakukan pemeriksaan fisik berupa mengukur panjang atau tinggi badan, berat badan, lingkar kepala dan lingkar lengan anak. Seorang anak dapat di diagnosis stunting bila tinggi badannya berada di bawah garis merah (-2 SD) berdasarkan kurva pertumbuhan WHO.


Pencegahan 


Stunting pada anak akan berlanjut hingga ia beranjak usia dewasa. Jadi sebelum stunting memberikan dampak pada tumbuh dan kembang anak secara menyeluruh, maka stunting harus dicegah. Upaya yang bisa dilakukan untuk pencegahan stunting yaitu : 


Pemberian pola asuh yang tepat


Memberikan MPASI yang optimal


Mengobati penyakit yang dialami anak


Perbaikan kebersihan lingkungan


Menerapkan hidup bersih keluarga


Atau untuk lebih mudah mengingatnya, Stunting dapat dicegah dengan melakukan ABCDE.


A: Aktif minum Tablet Tambah Darah (TTD)


Konsumsi TTD bagi remaja putri 1 tablet seminggu sekali. Dan konsumsi TTD bagi ibu hamil 1 tablet setiap hari (minimal 90 tablet selama kehamilan).


B: Bumil teratur periksa kehamilan minimal 6 kali


Periksa kehamilan minimal 6 (enam) kali, 2 (dua) kali oleh dokter menggunakan USG.


C: Cukupi konsumsi protein hewani


Konsumsi protein hewani setiap hari bagi bayi usia di atas 6 bulan.


D: Datang ke Posyandu setiap bulan


Datang dan lakukan pemantauan pertumbuhan (timbang dan ukur) dan perkembangan, serta imunisasi balita ke Posyandu setiap bulan.


E: Eksklusif ASI 6 bulan


ASI eksklusif (hanya konsumsi ASI saja) selama 6 bulan pertama, dilanjutkan hingga usia 2 tahun dengan melengkapi Makanan Pendamping ASI (MP ASI) tepat setelah berusia 6 bulan.

 

Upaya yang sudah dilakukan oleh dinas kesehatan Kota Serang :


1. Melakukan Scrining anemia pada remaja putri di sekolah sekolah di kota serang


2. Melakukan kegiatan aksi bergizi di sekolah dalam upaya meningkatkan cakupan remaja putri yang mengkonsumsi tablet tambah darah


3. Melakukan skrining pemeriksaan kehamilan mulai dari level posyandu minimal 6 x 


4. memberikan suplementasi MMS (multi Mineral Suplemen) bagi seleruh ibu hamil dan memberikan TTD bagi Ibu hamil anemia secara gratis di posyandu 


5. Memberikan PMT Pangan lokal bagi ibu hamil kek selama 120 hari mulai dilaksanakan pada bulan juli


6. melakukan pemantuan pertumbuhan dan perkembangan balita di posyandu secara rutin setiap bulan 


7. mendukung ibu dalam keberhasilan menyusui dengan menyediakan konselor ASI di masing masing puskesmas 


8. penyediaan PMT bagi balita dengan masalah gizi (Balita tidak naik bb, Bb kurang dan gizi kurang selama perioder tertentu mulai pada bulan juli ) 


9. Balita stunting dan gizi buruk mendapat tatalaksana asuhan gizi di rumah sakit dan di beri PKMK (Pangan olahan keperluan medis khusus) yang di pantau oleh dokter spesialist anak di RSUD Kota Serang.' (ADV)