Notification

×

Iklan

KKM Universitas Bina Bangsa kelompok 23 Melakukan Observasi terhadap Kelompok Wanita Tani (KWT) yang Membudidayakan Sayuran dan Tanaman Herbal di Desa Pelawad

Selasa, 21 Juli 2026 | Juli 21, 2026 WIB Last Updated 2026-07-21T16:00:10Z

Pelawad, 19 Juli 2026 – Dalam rangka pelaksanaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Bina Bangsa Kelompok 23 dibawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Rina Andriani S. Pd., M.Hum  melakukan obeservasi langsung terhadap Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Pelawad, yang aktif membudidayakan berbagai tanaman pangan dan tanaman herbal. Kegiatan observasi ini bertujuan untuk melihat secara langsung peran KWT dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus memberdayakan perempuan melalui pemanfaatan lahan pekarangan rumah yang produktif, lalu tidak hanya menghasilkan sayuran segar untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menjadi langkah awal dalam mengembangkan usaha mikro berbasis hasil pertanian.


 

Sumber: Dokumentasi KKM 23 Desa Pelawad


Narasumber Ketua KWT Desa Pelawad, Hj. Susilawati, menjelaskan bahwa KWT pertama kali dibentuk pada Maret 2011 atas gagasan Ketua Kelompok Tani Kecamatan Ciruas saat itu Bapak Rahmat Gunawan, dengan tujuan memberdayakan perempuan melalui kegiatan bercocok tanam. Seiring berjalannya waktu dan adanya pergantian lurah, kegiatan KWT sempat vakum selama beberapa tahun sebelum kembali aktif.


"Tujuan utama KWT adalah memberdayakan perempuan agar memiliki kegiatan yang bermanfaat. Hasil tanaman nantinya bisa diolah menjadi produk UMKM sehingga dapat menambah penghasilan keluarga," ujar Hj. Susilawati.


Saat ini KWT Desa Pelawad memiliki sekitar 30 anggota, meskipun yang aktif mengikuti kegiatan rutin berkisar 10 hingga 15 orang. Keanggotaan terbuka bagi seluruh perempuan di Desa Pelawad yang ingin belajar bercocok tanam sekaligus berpartisipasi dalam kegiatan sosial masyarakat.

Sumber: Dokumentasi KKM 23 Desa Pelawad


KWT memiliki struktur kepengurusan yang terdiri atas Hj. Susilawati sebagai Ketua, Ngatini sebagai Wakil Ketua, Muawanah sebagai Sekretaris, dan Mujiningsih sebagai Bendahara. Selain berkebun, para anggota juga rutin mengadakan arisan atau hanya sekedar berkumpul ria pada pekan libur sebagai sarana mempererat dan memperkuat kebersamaan. Hal inilah yang menjadi sorotan warga Desa Pelawad sekaligus menjadi contoh hal positif bagi warga setempat melihat para anggota KWT terkenal akan solidaritas dan kebersamaannya yang kuat.


Sumber: Dokumentasi KKM 23 Desa Pelawad


Setiap hari anggota KWT menjalankan jadwal piket untuk merawat kebun yang berada di pekarangan rumah Wakil Ketua, Ngatini, dengan lahan yang merupakan milik Ketua KWT, Hj. Susilawati. Berbagai tanaman dibudidayakan, mulai dari tanaman obat keluarga (TOGA), sayuran seperti bayam, aneka buah-buahan, hingga lidah buaya. Untuk tanaman bayam, masa panen relatif singkat, yaitu sekitar 30 hari setelah penanaman. Menurut Hj. Susilawati, hasil panen dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.


"Kalau panen, kami tidak perlu membeli sayur lagi karena bisa mengambil langsung dari kebun. Sebagian hasil panen dimanfaatkan anggota, sebagian lagi dijual, dan sebagian disedekahkan atau digunakan kembali untuk keberlangsungan kegiatan KWT," jelasnya.


Meski demikian, pengelolaan kebun masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu kendala utama adalah kondisi cuaca yang panas serta belum tersedianya paranet sebagai pelindung tanaman sehingga tanah cepat kering dan memengaruhi pertumbuhan tanaman.


"Kami sangat membutuhkan paranet agar tanaman tidak terlalu terpapar panas matahari. Dengan begitu, tanaman dapat tumbuh lebih baik dan hasil panen juga meningkat," ungkapnya.


Ketua KWT Desa Pelawad berharap mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, khususnya dalam pengembangan usaha hasil pertanian. "Kami berharap ada koordinasi dan pendampingan dari lembaga terkait untuk membantu pengembangan UMKM, memberikan pelatihan, serta menambah wawasan anggota agar KWT semakin maju dan mandiri," harap Hj. Susilawati.


Melalui semangat gotong royong dan kebersamaan, KWT Desa Pelawad membuktikan bahwa pemanfaatan lahan pekarangan tidak hanya menghadirkan lingkungan yang lebih hijau, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga serta membuka peluang usaha bagi perempuan di Desa Pelawad. Dukungan dari pemerintah, lembaga terkait, dan masyarakat diharapkan mampu mendorong KWT terus berkembang sebagai wadah pemberdayaan perempuan yang berkelanjutan.