SWARABANTEN - Pergantian musim kemarau dan penghujan kerap menyisakan kecemasan mendalam bagi warga di wilayah selatan Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.
Salah satu wilayah yang paling terdampak adalah Kecamatan Bayah. Bagi masyarakat setempat, dampak ekstrem dari perubahan musim ini bukan lagi sekadar teori, melainkan fakta nyata yang terus berulang.
Ketua Badan Kerja Sama Antar Desa (BKAD) Kecamatan Bayah, Ade AR, mengungkapkan bahwa kekhawatiran utama warga saat musim hujan adalah ancaman banjir dan tanah longsor.
Sebaliknya, begitu kemarau tiba, masalah langsung berganti menjadi krisis air bersih dan gagal panen.
"Kalau sudah hujan seminggu nonstop, warga di Bayah sudah bersiap-siap begadang. Sungai Cidikit dan Sungai Cimadur kerap meluap ke pemukiman. Selain itu, drainase yang sempit dan dangkal membuat air tumpah ke jalan, salah satunya terjadi di jalan Provinsi lintas Bayah - Cikotok," ujar Ade AR, Selasa 22 September 2026.
Di sisi lain, Ade juga menyoroti dampak kemarau panjang. Saat sumur-sumur warga mulai mengering, masyarakat terpaksa membeli air bersih untuk konsumsi.
Sementara air dari PDAM yang mengalir hanya bisa digunakan untuk keperluan mandi dan mencuci.
"Kondisi geografis Bayah yang berada di antara pesisir, sungai besar, dan perbukitan membuat dampak perubahan musim ini sangat terasa. Hal ini tentu memerlukan perhatian serius dan menjadi tanggung jawab bersama dan lintas sektoral pemerintah," tambahnya.
Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling terpukul. Saat musim hujan, petani sawah harus gigit jari karena tanaman padi mereka terendam banjir. Begitu kemarau datang, petani kebun mengalami krisis air hingga tanaman mereka layu dan mati.
Melihat kondisi tersebut, BKAD Kecamatan Bayah telah memetakan titik-titik rawan bencana di wilayahnya.
Bahkan menurut Ade, penanganan masalah ini harus dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi.
"Kekhawatiran warga ini sangat beralasan. Oleh karena itu, maksimalisasi pemasangan bronjong di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS), pembangunan drainase jalan yang memadai, serta pembuatan tandon air bersih harus dipikirkan dalam satu paket solusi, tidak bisa secara parsial atau terpisah-pisah," terang Ade.
Sebagai langkah nyata, BKAD mendorong setiap pemerintah desa untuk mengalokasikan anggaran ketahanan bencana guna mengantisipasi musim hujan dan kemarau, yang tentunya juga harus didukung penuh oleh pemerintah daerah dan pusat.
"Kami selaku warga Bayah sangat berharap pemerintah desa hingga kabupaten bisa memberikan solusi jangka panjang, bukan hanya sekadar menyalurkan bantuan darurat saat bencana sudah terjadi," pungkasnya.**
